Jumat, 29 Maret 2013

Aku, Mulutku,Tanganku dan Kakiku part II

Bismillah..
OK, ayo kita lanjutin pembahasan yang sebelumnya, "Aku, Mulutku, Tanganku, dan Kakiku."

Akan datang hari, mulut dikunci
kata, tak ada lagi.
Akan tiba masa, tak ada suara
dari mulut kita..
Berkata tangan kita
tentang apa yang dilakukannya,
Berkata kaki kita,
kemana ia melangkahnya,

Jadi gini, gue tuh sering nanya sama kedua tangan gue_ "Broo,ketika waktu pertanggungjawaban dihadapanNya tiba, apa yang mau kalian laporin tentang gue?"
Ngeri banget pokonya! coba bayangin ketika kedua tangan kita melaporkan kepadaNya apa yang telah mereka lakuin. Kalo yang baik-baik sih gak masalah, lha klo yang jelek?_semisal mengambil hak orang, memukul orang, meraba yang gak seharusnya diraba, menyentuh yang bukan muhrim, pokonya yang dilarang  deh_, gimana coba? Belum lagi kesaksian itu diperkuat dengan laporan kedua kaki kita, telinga kita, hidung kita dan semua anggota tubuh kita, sedangkan mulut yang sering dipergunakan untuk membenarkan yang salah udah gak ada lagi fungsinya,-dikunci-. Mati kutu pokonya. Saat itu, tak ada lagi yang bisa kita lakuin untuk memperbaiki laporan "mereka". Alhamdullillah kalo laporannya baik, tapi kalo laporannya merah, harus siap deh dihujamkan ke rumahnya Iblis laknatulloh, neraka jahannam..!!! Na'udzubillah

Mari kita cermati dua kata dari firman Alloh mngenai hal ini. Dengan menyebut asmaMu yang maha pengasih lagi maha penyayang : tukalliimuna aidihim (berkata kepada Kami tangan mereka) dan kata tasyhadu arjuluhum (memberi keseksianlah kaki mereka).

Mengapa ya, Alloh tidak pakai kata padanan (cielah bahasa nya broo) yang sederhana saja jika sekedar ingin  menyatakan tangan berbicara? Misal, kata takallama atau tahadatsa.

Sejauh yang gue pahami dari pendapat para Ulama, ada unsur penekanan makna yang sangat kuat pada kata  tukallimuna dibanding kata takallama. Dengan kata tukallimuna, makna yang menyeruak adalah Kami jadikan, kondisikan, desain, tangan-tangan mereka menjadi bisa berbicara. Tetapi, jika sekedar pake kata takallama, penekanan makna Kami jadikan.. itu tidak terpenuhi. Begitu juga pada kata tasyhadu. Sampai disini, gue yakin banget Alloh tidak sekedar berkata-kata dalam ayat-Nya, tetapi menyematkan makna khusus yang dalem dan kuat.
Dan tentunya, masa pertanggungjawaban itu akan benar-benar ada..!!!

Ya Alloh, hanya padaMu kami beribadah, dan hanya ke padaMu kami mohon pertolongan.
Innaka 'alaa kulli syaiin qodiir :)

Minggu, 24 Maret 2013

Aku, Mulutku, Tanganku dan Kakiku

Kebayang gak gmna keadan kita bila masa pertaggungjawaban itu sudah hadir di depan kita? Tiba-tiba mulut terkunci, nggak bisa ngomong secuil pun. Justru tangan kita yang ngomong, menceritakan segala perbuatan majikannya-ya kita ini-selama hidup di dunia, dan kemudian kaki memberi kesaksian pembenar atas kata-kata tangan itu.
Ngeri banget Bung.!!

Yang jelas, setiap kita pasti melewatinya, menempuhnya, teradili dengan seadil-adilnya untuk kemudian menerima putusan mutlak dan abadi terbang ke Surga atau dihujamkan ke Neraka (na'udzubilah)!

Ya, keputusan pada hari itu lebih mutlak dari pada keputusannya Hakim di pengadilan negara kita_yang bisa dibolak-balikan dengan uang_.

Mari kita coba sisir otak kita dengan cara begini: Mengapa ya Tuhan membungkam mulut kita? Kok, kesannya Tuhan sangat tidak percaya dengan lisan kita? padahal, ketika di dunia ini, si mulut besar banget perannya dalam kehidupan sehari-hari. Dan mengapa pula Tuhan memilih tangan untuk bericara dan kaki untuk bersaksi? Apa keistimewaan tangan dan kaki itu dibanding dengkul, dagu atau bahkan kemaluan ya?

#kita lanjutin besok ya, udah siang nih.. belum mandi :D